Rabu, 24 Agustus 2016

Perjalan Hidup Para Bandit Jalanan

Perjalan Hidup Para Bandit Jalanan

Perjalan Hidup Para Bandit Jalanan

Ibu Kota Indonesia menjadi sasaran para pengembang untuk menjadi sukses, 
semua orang datang dari tempat jauh dengan semangat dan harapan mejadi orang sukses di Jakarta. Tapi apa daya persaingan, kemampuan dan keahlihan terus bersaing membuat siapa yang kalah menjadi sampah.. dan yang menang menjadi penguasa di wlaya ini.

Masih Kenal dengan John Kei? Preman terpidana kasus pembunuan bos Tan Harry Tantono. orang yang memiliki wilaya di jakarta. Bukan hanya sekedar omongan sepak terjang John Kei sudah menjadi momok mengerikan di tanah air dia menjadi penguasa di wilayah Jakarta.

John Kei datang ke Jakarta pada 1990-an. Pria kelahiran 10 September 1969 di Pulau Kei, Maluku ini menolak disebut preman. Ia lebih suka dijuluki crossboy. Ia pernah dikeluarkan dari sekolah sewaktu SMA. Putus sekolah, John kemudian hijrah ke Surabaya sebelum akhirnya mendarat di Jakarta.

Begitu Juga dengan Hercules Ia merupakan seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi ketegangan Timor-timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Maka tak salah jika sosoknya yang begitu berkarisma ia dipercaya memegang logistik oleh KOPASUS ketika menggelar operasi di Tim-tim.

Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah ‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan perkelahian antar preman.

Dari Medan Olo Panggabean lahir di Tarurung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 24 Mei 1941. Nama lengkapnya adalah Sahara Oloan Panggabean, tapi lebih suka di panggil OLO, yang dalam bahasa Tapanuli artinya YA atau OK.

Pada masa hidupnya, untuk menemui atau hanya melihat sosok “Ketua” itu bukanlah perkara gampang. Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya di suatu tempat, itupun dengan pengawalan berlapis-lapis yang selalu mengitari kemanapun dia pergi. Sang “Ketua” itu pun selalu menghindari wartawan. Dia bahkan pernah memberikan uang kepada wartawan untuk tidak mewawancarai ataupun mengabadikan dirinya melalui foto.

Sosoknya sangat bertolak belakang dari sebutannya yang dikenal sebagai “Kepala Preman.” Perawakannya seperti orang biasa dengan penampilan yang cukup sederhana. Ia hanya mengunakan sebuah jam tangan emas tanpa satupun cincin yang menempel di jarinya. Sorot matanya terlihat berair seperti mengeluarkan air mata, tetapi memiliki lirikan yang sangat tajam. “Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Bang, soalnya saya kan sampai sekarang masih lajang,”ujar Olo sambil tertawa. Meski begitu, pengawal rata-rata bertubuh besar berkumis tebal dengan kepalan rata-rata sebesar buah kelapa.

Olo Panggabean diperhitungkan setelah keluar dari organisasi Pemuda Pancasila, saat itu di bawah naungan Effendi Nasution alias Pendi Keling, salah seorang tokoh Eksponen ’66’. Tanggal 28 Agustus 1969, Olo Panggabean bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK. Masa mudanya itu, dia dikenal sebagai preman besar.

Anton Medan (lahir dengan nama Tan Kok Liong).
Lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 1 Oktober 1957 (umur 57 tahun).
Adalah mantan perampok dan bandar judi yang kini telah insaf.
Ia memeluk agama Islam sejak 1992.
Ia mendirikan rumah ibadah unik dan berasitekrut ala China yang diberi nama Masjid Jami' Tan Kok Liong.
Masjid itu terletak di areal Pondok Pesantren At-Ta'ibin, Pondok Rajeg, Cibinong.

Tan Kok Liong atau yang lebih dikenal dengan nama Anton Medan adalah mantan mafia kelas kakap ibu kota yang kini sudah tobat dan kini menjadi penceramah.
Rekam jejaknya yang cukup panjang di dunia hitam membuat Anton Medan sudah merasakan hidup dari balik bui sejak kecil.
Perjalanan dari BUI mengantarkannya menjadi seorang Da'i.

Sepanjang hidupnya, Anton mengaku sudah 14 kali keluar masuk penjara
Akrab dengan kehidupan di "HOTEL PRODEO" membuatnya mengetahui seluk-beluk lapas.
Anton membandingkan perbedaan penjara di masa sebelum reformasi dengan masa kini.
Menurutnya, penjara di masa kini sudah jauh lebih baik.

Masa lalu Anton Medan sangat lekat dengan kriminalitas.
Dulunya, pemilik nama kecil Tan Kok Liong ini kondang sebagai perampok dan bandar judi kalas kakap ibu kota.
Pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 1 Oktober 1957 itu harus menghabiskan 18 tahun 7 bulan mendekam di balik jeruji besi untuk menebus kejahatannya.